Mengikuti Jejak Nabi

mengikuti sunnah nabi dalam pengobatan

Thibbun Nabawi

Setiap penyakit pasti ada obatnya

Thibbun Nabawi

apabila aku sakit, maka allah yang menyembuhkannya

Thibbun Nabawi

berobatlah dengan Al-qur'an dan makanan yang dianjurkan olah nabi muhammad

Thibbun Nabawi

diambil dari buku Thibbun Nabawi, karangan Ibnu Qoyyim Al-Zaujiah

Minggu, 22 Januari 2012

Sulit jodoh akibat Guna-guna

Pertanyaan:
Pak Ustadz, dulu saya pernah sakit “gila” sampai 2 kali, yang katanya disebabkan guna-guna seseorang. Sebabnya begini, tadinya saya mau dijodohkan dengan saudara sepupu, tetapi saya tolak sehingga kemungkinan dia yang mengguna-gunai saya.
Kebetulan, saya bekerja di tempat “orang pintar” dan dapat mengetahui kalau saya kena guna-guna. Saya disuruh mandi dan minum dengan air yang dikasih mantra, dan saya juga disuruh ganti nama, walaupun untuk ganti nama saya menolaknya. Saya pindah kerja lagi, di sana saya ketemu Pak Haji yang kemudian memasang mutiara pada tubuh saya.
Karena ternyata dia itu cabul, saya pindah kerja dan sekarang bekerja di tempat asal saya. Di sini saya senang karena bisa berjilbab dan menjalankan shalat. Yang menjadi kekhawatiran saya, sebenarnya saya sudah disuruh dan ingin menikah, namun tiap kali saya menawarkan diri pada lelaki (baik langsung maupun tidak langsung) mereka pada tidak mau. Saya kadang jadi malu mengapa saya “mengobral” diri, walaupun hal itu sebagai tanda bahwa saya tidak putus asa.
Pertanyaan yang ingin saya sampaikan adalah:
1. Apakah mutiara yang dipasang pak haji tersebut masih ada dalam tubuh saya?
2. Apakah ada penghalang dalam tubuh saya, sehingga semua lelaki tidak mau pada saya?
3. Saya takut tidak mendapat jodoh,  ini?
Sekian dulu surat dari saya, saya ucapkan terima kasih.

Jawaban:
Semoga Allah melapangkan dan memudahkan usaha Saudari. Kami juga merasakan penderitaan Saudari dan dapat melihat bagaimana susahnya Saudari melepas diri dari sihir dan guna-guna tersebut, sehingga segala cara Saudari lakukan untuk menyembuhkannya. Akan tetapi, Saudari belum berusaha mencari solusinya pada syariat Islam yang sempurna lagi lengkap ini.
Memang, setan dan bala tentaranya selalu berusaha menyesatkan dan menipu manusia dengan segala macam sihir dan guna-guna. Namun, Allah yang Mahakuasa memiliki dan menjaga hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Apa yang Saudari lakukan selama ini, yaitu berobat dengan cara-cara yang tidak disyariatkan Allah, bisa jadi malah menyusahkan diri Saudari sendiri. Apalagi Saudari sempat menemui hal-hal yang mengerikan seperti itu, ketemu orang cabul. Semua itu diakibatkan karena ketidaktahuan akan syariat Islam.
Oleh karena itu, mestinya kita semua lebih semangat dan giat menuntut ilmu agama, sebab karena tidak tahu syariat jadinya susah dan menemui banyak kesulitan. Namun, itu semua telah berlalu dan Saudari -alhamdulillah- telah berjilbab dan shalat. Ini patut disyukuri dan terus meneruslah minta kepada Allah keistiqamahan dalam agama ini.
Usaha Saudari menghilangkan sihir-sihir tersebut, baik dengan memasukkan batang tertentu atau dengan mantra-mantra yang tidak jelas makna dan kandungannya, merupakan perbuatan tercela menurut syariat, karena sihir dan guna-guna seharusnya diobati dengan cara yang sesuai syariat, seperti denganruqyah menggunakan doa dan ayat-ayat al-Quran atau cara-cara yang pernah digunakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam mengobati orang yang terkena sihir dan guna-guna.
Demikianlah sepatutnya seorang muslim selalu berusaha memecahkan segala persoalannya dengan melihat syariat sebagai landasan berpijak dan berhukum, tidak semau-maunya atau tergesa-gesa tidak  dan mengambil cara pintas yang menyimpang dari syariat.
Tentang mutiara yang pernah dimasukkan ke dalam tubuh Saudari, maka mutiara itu harus dihilangkan dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengambil cara-cara syariat, seperti dengan ruqyah atau yang sejenisnya. Mudah-mudahan bila masih ada dapat dihilangkan bila masih ada dapat dihilangkan AllahSubhanahu wa Ta’ala dari tubuh Saudari.
Kemudian, tentang jodoh dan terlambatnya, walaupun Saudari telah melakukan usaha-usaha yang mengarah ke sana, namun selalu gagal dan tidak mendapat sambutan dari lawan jenis, bisa jadi disebabkan sihir yang dibuat yang masih ada dalam tubuh Saudari. Di antara sihir memang ada yang bisa menimbulkan cinta, seperti semar mesem atau pengasihan dan yang sejenisnya. Akan tetapi, ada pula yang dipakai untuk memisahkan suami-istri dan membuat mereka saling benci atau membuat orang tidak suka kepadanya.
Meskipun demikian, semua ini tidak memberikan madharat (kejelekan) kepada yang disihir kecuali dengan izin Allah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَـكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُواْ لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْاْ بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُواْ يَعْلَمُونَ
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak  (mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seoarng pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagiu), sebab itu janganlah kamu.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi madharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi madharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tidaklah ada baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102)
Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-hamba-Nya. Jadi, walaupun demikian jangan sedih dan jangan takut, insyaallah jodoh Saudari sudah ditetapkan Allah hanya saja butuh kesabaran dalam berusaha menggapainya. Cobalah Saudari banyak mendekatkan diri kepada Allah yang Mahakuasa pemilik seluruh makhluk dengan amal salih lalu terus memohon kepada-Nya. Mudah-mudahan cepat dikabulkan.
Sekali lagi, jangan takut perihal jodoh. Ingatlah, kehidupan kita semua sudah ada yang mengatur. Demikian juga, masalah perjodohan semuanya sudah ada yang mengatur. Lihat saja, berapa banyak orang yang telah berusaha terus melakukan pendekatan, bahkan yang telah menjalin hubungan sampai tinggal , dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak jadi karena satu perkara yang tidak terpikirkan sebelumnya. Juga, ada yang tidak berniat sebelumnya, namun ketika berjumpa mereka langsung melakukan proses pernikahan, dan akhirnya menjadi suami istri yang bahagia.
Di sinilah Allah menguji kita semua, bisakah kita semua menjadi hamba-Nya yang bersyukur dan sabar menerima ujian-Nya, juga diuji bisakah kita menjadi hamba-Nya yang berhak mendapatkan kemurahan dan kemuliaan dari-Nya. Oleh karena itu, janganlah merasa sedih dan takut tidak mendapatkan jodoh. Toh, jodoh tersebut milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah ditentukan sebelum menciptakan kita semua
Berserah dirilah kepada Allah. Jangan pula putus asa berusaha mencarinya dengan cara-cara yang sesuai dengan syariat. Mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat.
Sumber: Majalah , Vol. 2, No. 8, 2003.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksiwww.konsultasisyariah.com)

Apakah suami saya kena guna-guna

Pertanyaan:
Ustaz, saya punya masalah yang sangat berat sekali. Singkat cerita, saya sudah pisah ranjang selama enam bulan. Saat ini, suami saya sudah menggugat cerai dan itu sudah berjalan tiga kali. Awalnya, sebelum bulan puasa, suami saya menunjukkan tingkah yang aneh: sering memasang password di handphone-nya padahal biasanya tidak pernah, sering meminjam handphone pada teman wanitanya. Kalau saya tanya, “Kenapa kok pinjam?” Katanya, baterai handphone-nya mudah habis. Pernah, ada foto wanita itu. Lalu, saya beri tahu ke suami saya untuk berhati-hati.
Suami saya jadi sering pulang malam-malam. Pas malam itu, saya tanyai dia dan tiba-tiba dia bilang bahwa dia sudah tidak cinta lagi, tidak sayang lagi, pokoknya dia benci. Katanya, hatinya tertutup untuk saya, yang ada cuma anaknya. Dia juga tidak bisa melihat keindahan saya lagi, yang ada hanya wanita itu.
Dia selalu–dan selalu–menyalahkan saya; tidak ada kebaikan dari saya lagi. Suami saya mengungkit-ungkit masa lalu. Padahal, kalau saya tanya hanya dengan masalah kecil, suami saya malah pergi (minggat) dari rumah saya ke rumah mertua. Waktu itu sekitar minggu kedua bulan puasa.
Pada bulan Desember, dia disuruh pergi dari rumah mertua karena dia sudah susah untuk mendengar nasihat dari orang tua. Dia pun mengurus perceraian diam-diam, tanpa memberitahu saya dan keluarganya. Padahal, waktu itu anaknya sedang diopname. Dia lebih memilih membayar pengacara, Ustaz.
Saya datang ke kiai. Katanya, suami saya kena guna-guna satu keluarga. Wanita itu memberi (sesuatu) ke suami saya supaya suami saya melupakan istri, anak, dan keluarganya.
Saya selalu shalat tahajud supaya diberikan petunjuk oleh Allah. Tapi, saat ini hati saya masih berat untuk mengambil keputusan, Ustaz. Saya belum genap setahun ini memakai jilbab. Saya ingin ada di jalan Allah. Saya ingin suami saya kembali ke keluarganya.
Kesalahan saya sangat kecil sekali, dan kesalahan seperti itu bisa dilakukan siapa saja. Saya berusaha meminta maaf ke suami saya tapi suami saya tidak mau memaafkan. Dia sangat egois; tidak bisa kembali (pada kami). Dia selalu membela wanita itu. Sungguh, saya sangat sakit hati, Ustaz.
Yang saya tanyakan:
1. Apakah suami saya kena guna-guna?
2. Apakah suami saya, ke depan nantinya, baik untuk saya dan anak saya?
3. Apakah suami saya masih mencintai saya lagi?
Tolong berikan saran dan solusi, Ustaz.

Jawaban:
Bismillah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du ….
Ibu yang kami hormati, kami turut memahami kesedihan yang Ibu alami. Namun, apa pun itu, kita harus sadar bahwa ini semua adalah ujian dari Allah. Sikap yang tepat adalah berusaha memosisikan diri pada keadaan yang paling aman, untuk kehidupan dunia dan akhirat. Kalaupun tidak memungkinkan untuk berada di posisi aman bagi kedua kehidupan maka prioritaskan untuk memilih posisi aman bagi kehidupan akhirat. Insya Allah, Allah akan mengganti kehidupan dunia yang telahhilang.
Para ulama mengatakan,
من ترك شيئا لله عوضه الله خيرا منه
“Barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang dia inginkan karena takut kepada Allah, niscaya Allah akan memberi ganti kepadanya dengan yang lebih baik.”
Langkah yang Ibu tempuh, dengan bertanya terlebih dahulu kepada orang yang Ibu nilai paham agama, merupakan langkah tepat untuk mendapatkan posisi aman ketika mendapat musibah. Oleh karena itu, sebagai mukadimah, kami menyarankan agar Ibu tidak mendatangi dukun, peramal, tukang santet, kiai ilmu putih, atau siapa pun orangnya, yang membuka praktik pengobatan dengan bantuan khadam (baca: jin) atau dengan menggunakan cara yang tidak lazim. Mendatangi mereka justru akan membahayakan posisi kehidupan akhirat kita, sementara posisi aman untuk kehidupan dunia belum tentu tercapai.
Di antara ciri mereka:
1. Mereka membuka praktik pengobatan (ditawar-tawarkan, bahkan sampai diiklankan).
2. Menggunakan syarat-syarat khusus, seperti: pasien diminta untuk membawa barang tertentu atau melakukan ibadah tertentu.
3. Solusi yang dia berikan bukan nasihat, bukan penjelasan hukum-hukum syariat.
4. Biasanya, solusi yang diberikan adalah:
- Air yang sudah diberi doa, tulisan arab yang dibungkus rapi, kertas-kertas bertuliskan ayat Alquran, makanan tertentu, atau wirid dan bacaan tertentu (tanpaada dalilnya).
- Hanya keterangan yang justru membuat pasien semakin menggantungkan dirinya kepada kiai.
Sekali lagi, jangan sampai kita mendatangi mereka, karena keberadaan mereka tidaklah memberikan solusi, namun justru memperparah keadaan.
Selanjutnya, terkait dengan masalah yang Ibu utarakan.
Pertama: Sesungguhnya, memungkinkan bagi manusia untuk diguna-gunai, sehingga dia membenci keluarganya dan mencintai orang lain. Ini merupakan bahasa sihir yang Allah sebutkan di Alquran. Allah berfirman,
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Mereka (orang Yahudi) belajar kepada dua orang itu tentang ilmu sihir yangmereka gunakan untuk memisahkan seseorang dari pasangannya. Padahal, mereka tidak mampu memberikan bahaya (dampak negatif) kepada orang lain kecuali dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah:102)
Kedua: Ayat di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa apa pun yang dilakukan oleh seseorang, niscaya tidak akan memberi pengaruh kepada orang lain, keculi dengan takdir dari Allah.
Ketiga: Dalam menyelesaikan masalah ini, mohon jangan dihadapi sendiri. Ibu memerlukan teman “curhat” dan pemberi solusi. Sebisa mungkin, jangan berkonsultasi kepada teman yang tidak paham agama, karena bisa jadi, dia justru merasa senang dengan kondisi yang Ibu alami. Yang paling aman adalah bermusyawarah dengan keluarga Ibu atau keluarga suami Ibu, karena bisa dipastikan bahwa mereka sangat menginginkan agar keluarga Ibu kembali utuh sejahtera.
Keempat: Dekati keluarga suami (orang tuanya). Jika mereka sudah berpihak pada Ibu, ini akan memberi kekuatan posisi bagi Ibu ketika Ibu menghadapi suami. Ibu punya kesempatan yang besar untuk mencari pendukung di kalangan keluarga Ibu sendiri atau keluarga suami Ibu.
Adapun tentang kondisi suami Ibu.
Pertama: Kami tidak bisa memastikan apakah suami ibu diguna-gunai ataukah tidak, karena dalam kondisi semacam ini, ada banyak kemungkinan yang menyebabkan seorang lelaki bisa melakukan tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh suami Ibu. Bisa jadi, karena memang dia tertarik dengan wanita lain, sehingga dia ingin berpisah dari keluarganya, atau bisa juga karena disihir. Namun, apa pun itu, insya Allah, semuanya bisa diobati, jika Allah berkehendak.
Kedua: Untuk langkah mudahnya, Ibu bisa perhatikan kondisi suami Ibu, sebelum dan sesudah kasus ini. Mencintai dan tertarik pada wanita lain, sifatnya tidak seketika, namun prosesnya lama. Apalagi, jika pertemuan suami Ibu dengan wanita tersebut sebelumnya jarang berlangsung. Kalau kejadiannya semacam ini, lalu tiba-tiba sang suami begitu tertarik dengan wanita tersebut maka bisa jadi itu adalah guna-guna. Jika kasusnya karena guna-guna, mudah-mudahan penyembuhannya lebih mudah dibanding ketika sang suami mencintai wanita tersebut secara alami.
Ketiga: Penyembuhan guna-guna; berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan ketika hendak mengobati orang yang terkena sihir:
1. Biasanya, sihir itu mempunyai simpul (pusat jin yang mengganggu). Simpul ini diletakkan oleh pelaku sihir di tempat yang aman dan dekat dengan aktivitas orangyang ingin dijadikan sasaran sihir. Bisa juga, bentuknya adalah sihir tanpa simpul.
2. Untuk sihir yang menggunakan simpul, pelaku menggunakan salah satu bagian anggota badan sasaran. Misalnya: Rambut atau yang lainnya.
3. Jika kita mengetahui tempat simpul sihir itu diletakkan, untuk pengobatannya: hancurkan simpul itu dengan cara dibakar. Ini cara yang paling mujarab untuk mengobati sihir.
4. Jika kita tidak mengetahui tempat simpul sihir tersebut, jangan membebani diri untuk mencarinya dan jangan bertanya kepada dukun atau kiai, karena hal ini akan menyibukkan kita. Dalam kondisi ini, korban bisa diobati dengan cara diruqyah. Untuk tata cara ruqyah, Ibu bisa pelajari di situs: http://muslimah.or.id/aqidah/ruqyah-1-terapi-ruqyah-syari.html
Bisa juga dengan memperbanyak doa kepada Allah secara sungguh-sungguh. Insya Allah, Allah akan mengubah hati suami Ibu dan memberikan keteguhan bagi Ibu.
Sebelumnya, kami ingatkan agar Ibu tidak meminta ruqyah kepada orang lain, karena itu hukumnya makruh. Ibu dan keluarga, masing-masing berdoa memohon kepada Allah agar sang suami disembuhkan.
Apakah suami Ibu adalah orang yang baik bagi keluarga?
Saya tidak bisa menilainya. Bisa jadi, dia bersikap semacam itu karena jiwanya tertutup oleh emosinya. Langkah mudahnya, dilihat dari pergaulan beliau sebelumnya. Jika sebelumnya beliau baik-baik saja dan mendukung keluarga untuk menjadi baik maka, insya Allah, suami Ibu ke depannya tetap baik bagi keluarganya.
Apakah suami Ibu masih mencintai Ibu?
Seratus persen, kami tidak tahu, karena ini adalah masalah hati; yang mengetahuinya hanya Allah. Sementara, sikapnya saat ini bisa jadi hanya karena luapan emosinya. Berikan sikap yang terbaik bagi suami Ibu, berpenampilanlah secara menarik di hadapannya. Semoga ini akan mengembalikan cintanya kepadakeluarganya. Setidaknya, anak akan menjadi pengikat kuat bagi keutuhan keluarga Ibu.
Saran:
1. Banyak-banyak memohon ampunan dan beristigfar kepada Allah. Bisa jadi, ujian ini merupakan akibat dari kemaksiatan yang pernah kita lakukan. Bukan karena Allah tidak sayang, namun Allah hendak membersihkan dosa kita di dunia, sebelum nantinya menjadi bahan siksaan di akhirat. Imam Abu Hanifah mengatakan, “Tidaklah aku menjumpai kondisi buruk pada keluargaku kecuali karena kemaksiatan yang aku lakukan.”
2. Banyak memohon keselamatan dari dampak buruk musibah. Semoga musibah ini tidak menimpa agama kita. Semoga Allah mengampuni kita, tanpa harus menguji kita dengan musibah ini. Amin.
Allahu a’lam. Semoga bermanfaat.
sumber : konsultasisyariah.com